Cerpen GaJe tapi Aneh

My Love From My Fantasy World

Pagi ini langit tak seceria biasanya,ia menitihkan air mata dan jatuh sedikit demi sedikit. Walau begitu, aku tetap harus pergi ke sekolah. Jalanan makin pendek saja,kabut tiba-tiba menghalangi jalanku. Ahh…sudahlah nasibku memang tak mujur.
Lima belas menit kuhabiskan waktuku di jalan. Sekarang,gedung besar yang disebut sekolah ini telah menungguku. Berdiri gagah dikelilingi berbagai tanaman yang membuat sekolah ini rindang dan sejuk. Tetapi menurutku, sekolahku seperti cagar alam. penuh dengan tanaman. Tapi tak apa, aku cukup menyukainya.
Baiklah. Kutegakkan badanku dan kulangkahkan kakiku menuju kelasku yang dikelilingi berbagai macam tanaman. Sebenarnya semua kelas dan ruangan di sekolah ini dikelilingi oleh tanaman. Entah bagaimana kalian membayangkannya. Tapi begitulah keadaan sekolahku. Aneh bukan ? Ternyata kelasku masih sepi. Padahal, ini sudah pukul… astaga !!! Ini baru pukul enam lebih lima belas ! Pantas saja kelas ini masih sepi…
Kupalingkan pandanganku ke mejaku yang terletak di pojok, paling belakang. Hei…tunggu dulu … siapa dia, kenapa dia duduk di bangkuku? Kuhampiri laki-laki itu,
“Hei… kau ini siapa ? Kenapa kau duduk di sini ? Ini tempat dudukku !” kataku padanya.
“Owh…gitu ya ? Maaf deh aku gak tahu. Tapi kursi di sini ada dua kan ? Apakah kursi yang satu ini ada yang memakai ?” katanya padaku. Nyebelin banget sih dia.
“Ya …memang kursi ini kosong.Tapi ini milikku dan aku lebih suka duduk sendiri.” kataku tak kalah menyebalkan.
“ Owh… emang harga kursi ini berapa ? Bukankan ini kursi dari sekolah untuk siswa ? tanyanya sambil memincingkan alis matanya.
Argh… aku kalah debat deng annya .Ternyata dia anak yang cukup cerdas.
“ Baiklah kau boleh duduk di sini.” kataku padanya dengan hati kecewa,
“Emh… aku anak baru di sini. Namaku Aditya Luthfi Shaque ,” katanya sambilmengulurkan tangannya.
Malas sekali menjabat tangannya. Dia adalah orang yang sudah memperburuk pagiku yang sudah tak berbentuk. Tapi kenapa dia masih menjulurkan tanggannya ? Ini sudah sekitar dua menit. Baiklah,aku ini manusia yang masih punya hati. Kuulurkan tanganku,
“Namaku Savira.Savira Otrera,” dua detik berlalu,kulepaskan tanganku.
“Kupikir aku butuh mengenali gedung di sekolah ini. Kamu mau gak nemenin aku jalan-jalan ?”pintanya kepadaku tanpa berpaling kepadaku sederajat pun tidak.
“Kenalan aja sendiri ! Tuh sampingmu ada tembok.Tanya aja sama tembok ,dia kan lebih tua dariku.Jalan-jalan sama genderuo aja sana !” pikirku .
“ Emh… gitu ya… jadi kamu gak mau ?” katanya dengan muka agak kecewa.Ia berdiri lalu mendekati tembok. Sedang apa dia ?
“ Tembok, dia menyuruhku untuk bertanya padamu…” katanya menghadap pada tembok seolah-olah sedang berbicara pada manusia . Apaa! Apa dia bisa membaca pikiranku ? matilah aku…
“ Oh ya … dan dia juga menyuruhku untuk berjalan-jalan bersamamu…” Ia berpaling dari tembok dan melihat di depan kelas .Kata-kata terhenti …  “Genderuo” lanjutnya. Jadi ia benar-benar bias membaca pikiranku ? Argh…
“ Kau ini bicara apa ? siapa yang bilang tidak mau ?”kataku padanya sambil berjalan mendekatinya.
“Owh…kalau begitu ayo !” katanya sambil tersenyum puas.
Argh… apa yang aku lakukan ? kenapa aku menerima ajakannya ? Dan baru kali ini aku berbicara lebih dari lima kata pada laki-laki. Kuakui dia adalah orang pertama yang membuatku buka mulut selain saat mengerjakan tugas atau semua yang berbau pelajaran. Apakah dia pantas disebut sebagai teman ? Argh… sial! Aku lupa dia bisa membaca pikiran orang lain. Bodohnya aku…
“ Tak apa… aku juga mau jadi temanmu…” katanya sambil melihat ke arahku.
Deg ! kenapa sorotan matanya begitu lebut ? astaga apa yang aku lakukan ?
“Mmm begitu ya… aku juga tau itu.” katanya sambil tersenyum sombong.
“Terserah kau sajalah.”kataku padanya.
Sepanjang perjalanan ia berkicau-kicau mengenai keluarganya, sosok ayahnya, cita-citanya, masa lalunya dan macam-macam. Hatiku sakit,kuhentikan langkahku. Aku tak memiliki apa yang ia miliki. Ia memiliki keluarga yang utuh dan bahagia .Sedangkan aku … cita-cita saja tidak punya. Pelajar macam apa aku ini ? Tanpa aku sadari air mataku menetes. Argh… cengeng sekali aku hanya mendengar cerita begitu saja menangis. Setan Alas kau ! kenapa kau bercerita hal macam itu padaku ha ?!”
Tanpa aku sadari tangan lembutnya telah membelai wajahku.
“Maafkan aku …aku tak tau …bukan maksudku membuatmu menangis …kupikir sebutan setan alas cocok untuku.”katanya menyesal.
“ Tidak. Kau tak perlu minta maaf. Memang sudah jalan hidupku aku seperti ini. Kau berkata seperti itu ,juga tidak akan mengubah hidupdu” kataku padanya.
Tangannya berhenti membelai wajahku. Kedua tangannya ditempelkannya di bahuku dan berkata,
“Semua orang memiliki waktu dimana ia akan mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungannya masing-masing. Kalupun kau kurang beruntung,jangan diam saja. Itu memang tak akan mengubah apa-apa. Jadikanlah itu rintangan yang harus dilewati dan jadikanlah itu kunci menuju hidup yang lebih baik. Itu yang dikatakan ayahku padaku. Percayalah…Tuhan itu baik.” katanya padaku. Yaa perkataannya memang pintar tapi mengapa wajahnya bertolak balik perkataannya? Ia terkesan seperti anak polos yang tak tau apa-apa.
Settt…tangannya meraih tanganku lalu berlari… apa yang dia lakukan ? dengan terpaksa aku ikut berlari walau agak terseok-seok.
“Hei !!! bisakah kita berjalan saja ? aku tak kuat,”kataku dengan nafas terenggah-enggah. Karna tak kuat berlari lagi …tubuhku terasa lemas dan …
Bukkk…
Aku menabrak seseorang.
“ lemah sekali kau … seharusnya kau lebih rajin berolahraga.”katanya sambil menarik rambutku yang aku ikat.sejak kapan dia ada di depanku ?
“Hei!!!! Apa yang kau lakukan dasar setan alas!”kataku padanya.
“Cowok seganteng aku kamu pangil setan alas ? astaga …”katanya padaku
“Bukankan kau yang bilang bahwa nama itu memamg pantas untuk dirimu ?”
“Sudahlah…ayo cepat kita kembali ke kelas !sebentar lagi bel masuk akan berbunyi !”katanya sambil mendorongku .
“Hei!!! Bisakah kau tidak mendorongku sekeras itu!”
Hari ini berlalu sangat cepat. Entah kupikir karena hari ini cukup berbeda dari biasanya.
###
 Malam ini langit sangat indah dihiasi dengan jutaan bintang yang berkelap kelip. Masih terngiang dipikiranku kata-kata luthfi tadi pagi. Setelah kupikir-pikir, benar juga katanya. Aku tak boleh diam saja, aku harus mengubahnya mulai dari sekarang ! Pikiran dan hatiku mulai terbuka.
Trrrrttt… handphoneku bergetar itu berarti ada sms yang masuk. Kuambil handphoneku laku ku buka pesannya,
“ Hei.. Savira ini aku Luthfi” ya…dia mendapatkan nomorku tadi saat di sekolah tadi pagi.
“Hei…ada apa ?”
“Di rumahmu mati listrik gak ?”
“Gak. Emang di rumahmu mati listrik ya ?”
“Iya nih..”
“ mending kamu ke luar,ada banyak bintang hlo ..”
“Iya. Tapi gak ada bintang juga gak papa. Kan ada kamu yang jadi bintang di hatiku, yang akan menyinariku…”
“Apaan sih ?”
“Eh listriknya udah idup. Karna aku gombalin kamu listriknya jadi idup hehehe”
“-__- mmm”
“Eh kamu lagi ngapain ?”
“Lagi mikirin kamu !!!! ya lagi jawab sms kamu lah…”
“Wahh… aku juga lagi mikirin kamu nih…”
“Hmmm”
“Kamu udah ngantuk ya ?”
“Iya. Kok kamu bisa tau?”
“ Soalnya aku bisa ngrasain kamu dari sini …kaya’ ada apa gitu…”
“ Karna kamu udah tau kalau aku udah ngantuk , sekarang aku mau tidur.”
“O.k. siap-siap untuk presentasi besok. Have a nice dream Savira and I will see you tomorrow…”
###
Paginya dengan wajah berseri-seri dan penuh semangat aku pergi ke sekolah. Kulihat mentari juga tersenyum bahagia dan langit terlihat ceria.
“Hei ,”sapaku pada Luthfi.
“Oh hei ! Bagaimana ? Siap presentasi pagi ini ?” katanya padaku. Ya…kami sekelompok dalam presentasi pagi ini. Presentasi ini berdasarkan pelajaran yang kami pelajari kemarin.
“Tentu aku siap. Tapi, aku tak yakin…”kataku
“Kau harus yakin,percayalah. Kan ada aku…”katannya padaku.
Pagi ini semua berjalan lancar. Entah sihir apa yang ia lakukan padaku,sehingga hidupku berubah. Dia telah membuatku sadar apa artinya hidup. Aku yakin ayah dan ibu bahagia di atas sana melihat diriku bahagia.
Saat istirahat tiba…
“Savira aku mau nyanyi buar kamu boleh?”tanyanya padaku.
“Kalau begitu,bernyanyilah…”kataku padanya
“Tapi jangan di kelas …”
“Baiklah…”
Kami berjalan menuju kursi di taman yang letaknya di bagian timur kelasku. Jarang ada anak yang ke sana karena menurut mereka itu membosankan.
“Baiklah, sekarang mulailah bernyanyi.”kataku padanya sambil duduk di kursi.
“………… It seems to me that when I die These words will be written on my stone. And I’ll be gone gone tonight. The ground beneath my feet is open wide. The way that I been holdin on too tight with nothing in between. The story of my life I take her home, I drive all night to keep her warm and time Is frozen……”ia bernyanyi dengan sangat indah.
Setelah ia selesai bernyanyi,
“Kau tahu lagu yang aku nyanyikan tadi ?”tanyanya padaku.
“Tentu saja. Story Of My Life –One Direction.”
###
Selama satu bulan ini hidupku lebih berharga dan berubah menjadi indah. Prestasi demi prestasi ku raih dengan dengan usahaku. Ini semua berawal dari Luthfi dan aku ingin mengajaknya ke toko buku sebagai ucapan terimakasihku sekaligus permintaan maafku karena sudah mengatakan bahwa yang dia katakan di hari itu takkan mengubah hidupku. Ternyata aku salah.
Kami pergi ke toko buku sepulang sekolah. Kebetulan toko buku tidak terlalu jauh dari sekolah kami ,jadi kami berjalan kaki untuk ke sana. Itung-itung buat olah raga.
Disaat kami sedang asyik memilih buku, tiba-tiba terdengar suara kaca yang pecah dan saat itu juga suasana berubah menjadi ricuh. Dari sela-sela rak buku kami melihat bahwa saat ini toko buku yang kami datangi sedang kedatangan tamu tak diundang. Mereka adalah…PERAMPOK!
Aku jatuh lemas tak bisa berbuat apa-apa. Kupandangi Luthfi yang dengan tenang mengambil handphonenya.
“Kau mau apa ?”tanyaku berbisik padanya.
“Menelpon polisi”katanya nyengir sambil berbisik.
Brakkkkk!!!
Jantungku berdegup kencang seperti mau copot. Rak disamping kami roboh. Buku-buku berhamburan. Itu buku sayang kan kalau rusak, mending buat aku aja. Argh…apa yang aku pikirkan? Sekarang para perampok telah mengepung kami.
“Ohh.. ternyata ada dua tikus di sini. Satu seorang gadis dan satu lagi laki-laki yang masih bau kencur. Hahaha. Kenapa gadis manis? Kau takut?” kata peampok berengsek itu sambil menarik lenganku. Apa apaan perampok ini ?
“Lepaskan!!”teriakku. Bukan teriakkan alay tentunya.
“Hei…om-om stua yang sok muda ,lepaskan temanku!” teriak Luthfi.
“Oh ada anak sok pahlawan rupanya” kata perampok yang eambutnya panjang dan diikat itu sambil menunjuk Luthfi.
Brakkk!!!
Luthfi mendorong perampok itu menghantam rak buku di belakangnya. Ternyata dia jago bela diri juga. Tapi kemampuannya itu tidak cukup untuk melawan perampok yang sebanyak itu.
“Eh bocah tengil makannya jangan sok-sokan lu…” kata perampok yang bertubuh kurus dan berambut kribo.
Brakkkkk!!!
Dihantamkannya tubuh Luthfi ke tembok ruangan dengan keras dan berulang-ulang. Mereka pikir Luthfi itu mainan? Tubuhnya lemas tak berdaya dengan puluhan luka di tubuhnya.
“Hentikan!!!! Teriakku dan tanpa ku sadari air mataku terjatuh lagi.
“Oh…gadis manis menangis? Cup…cup…cup” kata perampok yang memegangiku. Asal dia tahu saja, aku tak suka dipanggil manis.
“Angkat tangan !!!!” terdengar suara sepasukan polisi di luar sana. Mereka masuk dan langsung menyerbu para perampok. Kulihat Luthfi tersenyum walupun bentuknya aneh karena efek pukulan perampok tadi. Perampok yang memegangiku mengeluarkan pisau dan mengancam para polisi. Dengan cepat polisi menembak kaki perpampok yang memegangiku. Namun perampok itu lebih dulu menusukkan pisaunya ke punggungku. Darah segar mengalir melumuri tubuhku.
Tidak mungkin!!!!!
Apakah ini akhir dari petualanganku yang baru saja akan kumulai ?
###
Kubuka mataku,dan kurasa aku ada di rumah sakit. Aku masih hidup ! Kupandangi seseorang yang juga berbaring di sebelah sana. Luthfi! dia juga masih hidup. Tuhan terimakasih atas semua yang telah kau berikan…untuk ketiga kalinya air mataku menetes .Inikah yang disebut keajaiban ?
“Savira!!!” teriak Bu July sambil menggebrak mejaku.
“Eh…maafkan saya Bu”kataku kaget.
“Kau melamunkan apa?”Tanya Bu July.
“Emmmm…”kupandangi kursi sebelahku. Kosong!
“Hati-hati lho nanti kalau melamun bisa-bisa ……”nasihat Bu July, yang menurutku malah menakut-nakuti.
Jadi selama ini aku melamun? Itu berarti Luthfi tidak ada ? Jadi……? Berarti aku belum sempat membeli buku ya ? Sayang sekali …kupikir nyata.  Humph…Luthfi… ah sudahlah lebih baik kuperhatikan pelajaran pagi ini untuk mengubah duniaku. Walaupun Luthfi tak ada tapi aku yakin dia selalu ada di hatiku .Tak apalah rada alay.


Komentar

  1. "pagiku yang sudah tak berbentuk" "Kulihat Luthfi tersenyum walupun bentuknya aneh" :V

    BalasHapus

Posting Komentar