Cerpen : Dia Sahabatku



He..he..he ini cerpen creepy & gaje yang kubuat sendiri beberapa bulan lalu...........

DIA SAHABATKU
Hari ini begitu cerah namun kecerahan itu tak sampai ke wajah Haruka yang sejak tadi diliputi kemurugan. Pepohonan dan rerumputan terus bergoyang bahagia namun Haruka tak bisa gembira.
 “Huh...kenapa semua orang di dunia ini begitu menyebalkan ?” karena jengkel yang amat besar Haruka menendang  batu yang ada di depannya. ‘Jtakkk...’ tendangannya begitu kuat sehingga kakinya sakit.
“Aduh...dasar batu sialan!” bentak Haruka. 
Tiba- tiba saja terdengar suara dari pohon yang ada di tengah taman itu,
“Marah pada batu itu tidak ada untungnya,yang ada kakimu jadi sakit.” suara seseorang yang tak jelas keberadaannya. 
“Siapa....? siapa kau?” teriak Haruka.
“Lebih baik kau mengurusi kakimu  dari pada mencari tahu siapa aku.” kata seseorang itu lagi.
“Apa urusanmu denganku ?” tanya Haruka.
Belum sempat terjawab namun laki-laki itu sudah pergi meninggalkan taman. Sejak dari tadi ia berada di atas pohon dan hanya memperhatikan Haruka dengan emosinya.
Keesokan harinya, di sekolah, di tengah gaduhnya suasana kelas, Sensei Hatashi datang membawa seorang anak laki-laki yang sepertinya murid baru.
“Anak anak, kita kedatangan murid baru.Silahkan perkenalkan namamu, nak.”
“Nama saya Otake saya dari Kota Dong Seen.Semoga saya dapat berteman baik dengan teman-teman.” jelasnya singkat.
“Sepertinya aku mengenali suara itu tapi... ah ngapain aku pikirin” kata Haruka dalam hati.
“Baiklah Otake silahkan duduk di bangkumu .Mari kita lanjutkan pelajaran yang kemarin!”
Sementara Sensei Hatashi menerangkan, Haruka dan Otake berbincang-bincang.
“Hei, namaku Otake,siapa namamu?” tanya Otake sopan.
“Ya aku sudah tahu. Namaku Haruka” jawab Haruka
Saat sedang asyik berbicarara,tiba-tiba Sensei Hatashi menyebut nama Haruka. Haruka sangat kaget dan hampir saja jantungan.
“ Haruka, coba kamu jawab soal no.5 !”
“Oh.. eh.. iya sensei.” Haruka kebingungan karena tadi ia tidak memperhatikan saat Sensei Hatashi menjelaskan, 
“Aduh gimana nih ? soalnya susah banget,” wajah Haruka mulai pucat . Ia dihantui rasa ketakutan. Karena bila Sensei Hatashi marah, bagaikan perang dunia ke empat. Untunglah,bel istirahat berbunyi jadi ia tak harus mengerjakan soal itu.
“ Huh Pr-nya banyak banget sih, susah –susah lagi!” keluh Haruka.
“ Haruka, bagaimana kalau nanti kita belajar bareng .Biar lebih gampang ngerjainnya...” ajak Otake.
“ Baiklah. Tapi mau dimana?” tanya Haruka.
“Itu sih gampang.” jawab Otake seenaknya.
Sepulang sekolah Haruka dan Otake pulang bersama.Mereka berjalan menuju bukit yang ada di belakang kompleks tempat tinggal mereka.
“Inikan bukit yang pernah aku datangi bersama teman masa kecilku.Tapi entah kenapa aku lupa namanya.” kata Haruka.
“Ternyata kamu tidak berubah.Dari dulu kamu itu pelupa.” sahut Otake
“Memangnya aku pernah kenal kamu sebelumnya ?” tanya Haruka.
“Tentu saja, yang ada di cerita teman masa kecilmu itu adalah aku.” kata Otake sedih.
“ Hah yang benar? Aku nggak percaya.” kata Haruka bingung.
Ya terserah kamu sih kalau gak percaya. Mari kita selesaikan tugas sekolah kita!”
Setelah selesai mengerjakan tugas,mereka  saling bercerita tentang masa lalu mereka dan kehidupan sehari-hari mereka.Mereka bersahabat sejak kecil namun Keluarga Otake pindah ke luar kota sepuluh tahun yang lalu.
“ Otake, besok kita main lagi ya.Seperti dulu saat kita kecil.”
“Baiklah.Tapi aku tidak janji soalnya aku gak bisa lama-lama di sini.”
“Ah kamu kan baru datang masa’ udah mau pergi.”
“Mungkin aku akan di jemput.Selamat tinggal Haruka.”
“Sampai jumpa Otake.” Haruka masih binggung dengan kata yang di ucapkan Otake tadi. Seperti ucapan orang yang akan pergi jauh saja. Gumannya.
Malam harinya seperti biasa Haruka belajar dan menyiapkan barang yang akan di bawanya esok.
“ Ah,aku tidak saba runtuk belajar dan bermain lagi bersama Otake...”
Tiba-tiba, telepon rumahnya berdering. Haruka langsung mengangkat telepon tersebut. Betapa kagetnya saat ia mendengar bahwa itu dari ayah Otake yang mengatakan bahwa Otake telah meninggal dibunuh oleh segerombolan pencuri yang hendak mencuri barang-barang di rumah mereka. Hal itu terjadi saat kedua orang tuanya sedang berada di kantor. Ketika pulang mereka mendapati Otake telah berlumuran darah dan separuh perabotan rumahnya telah hilang.
Mendengar kabar itu Haruka gemetar sambil meneteskan air mata,  telepon yang tadinya ia genggam sudah jatuh ke lantai. Dengan sekuat tenaga Haruka berlari kerumah Otake yang berjarak satu blok dari rumahnya. Dinginnya malam tak membuatnya gentar, ia terus berlari. Sesampainya di rumah Otake, Haruka lemas tak berdaya melihat Otake yang berlumuran darah.
“Kenapa? Kenapa kamu datang lalu pergi seenaknya saja? Kemarin kamu datang sekarang kau telah pergi.Sudah kutemukan kembali kebahagiaanku tapi mengapa?” Kemarahan Haruka tak dapat diatasi dan akhirnya dia pingsan di depan mayat Otake.
 Paginya ia baru sadar. Terlihat orang tua Otake yang sedang menangis di depan mayat Otake yang sebentar lagi akan dikebumikan.Haruka hanya dapat menangis, dan dari situ ia melihat sesosok makhluk di sebelah mayat Otake yang sangat mirip Otake. Ia tersenyum kepada Haruka seakan berkata bahwa ia adalah salah satu sahabat yang ia miliki dan masih ada banyak di luar sana yang juga memperdulikan Haruka.
“ Terima kasih Otake kau telah menyadarkanku” Itulah kata yang terucap dari Haruka yang mulai tersenyum memandang mayat Otake.
 Beberapa detik kemudian sosok makhluk itu telah lenyap dari pandangannya,dan dari pintu depan Orang tua Haruka datang dan memeluk Haruka erat-erat. Baru kali ini Haruka dipeluk oleh kedua orang tuanya setelah  bertahun-tahun yang lalu. Keluarga Haruka menyampaikan bela sungkawa atas kejadian yang menimpa Otake dan keluarganya. Setelah kejadian itu, keluarga Haruka menjadi harmonis. Kini Haruka benar-benar diperdulikan dan disayangi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini